Jakarta - Cara beli obligasi pemerintah kini jauh lebih sederhana dari yang banyak orang bayangkan.
Instrumen investasi ini tidak lagi terbatas untuk mereka yang ahli keuangan, karena sekarang siapa pun bisa mulai berinvestasi dengan modal terjangkau langsung melalui ponsel.
Prosesnya praktis, risikonya relatif rendah, dan investor tetap mendapatkan imbal hasil rutin berupa kupon.
Perkembangan teknologi digital juga membuat transaksi obligasi pemerintah semudah melakukan pembelian secara online.
Obligasi pemerintah dikenal sebagai instrumen investasi yang aman karena pembayarannya dijamin oleh negara, dengan tingkat keuntungan yang tetap kompetitif.
Instrumen ini cocok bagi pemula yang baru mengenal investasi maupun investor berpengalaman yang ingin menyeimbangkan portofolio dengan aset berisiko rendah.
Melalui pembahasan yang ringan dan mudah dipahami, artikel ini akan membantu kamu mengenal konsep dasar hingga langkah praktis memulai investasi, sehingga cara beli obligasi pemerintah dapat dilakukan dengan lebih percaya diri dan terencana.
Apa Itu Obligasi Pemerintah?
Sebelum masuk ke tahap praktik investasi, ada baiknya memahami terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan obligasi pemerintah dan alasan instrumen ini diminati banyak investor. Pemahaman awal ini penting agar keputusan investasi bisa diambil dengan lebih percaya diri.
Obligasi pemerintah merupakan instrumen keuangan yang diterbitkan negara untuk menghimpun dana dari masyarakat.
Dengan membeli obligasi tersebut, investor pada dasarnya meminjamkan dana kepada negara.
Sebagai imbalannya, pemerintah memberikan pembayaran bunga atau kupon secara berkala serta mengembalikan dana pokok saat masa jatuh tempo berakhir.
Keunggulan utama obligasi pemerintah terletak pada tingkat keamanannya. Dibandingkan instrumen investasi lain yang memiliki risiko lebih tinggi, obligasi ini memperoleh jaminan penuh dari negara.
Dengan jaminan tersebut, kemungkinan terjadinya keterlambatan pembayaran kupon maupun pengembalian dana pokok sangat kecil.
Pemerintah Indonesia juga dikenal memiliki catatan yang baik dalam memenuhi kewajiban pembiayaan, sehingga risiko gagal bayar tergolong sangat rendah.
Di Indonesia, obligasi pemerintah dikenal sebagai Surat Berharga Negara atau SBN. Instrumen ini tersedia dalam berbagai jenis dengan karakteristik yang beragam, menyesuaikan kebutuhan investor.
Ada SBN yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder maupun yang bersifat non-tradable, serta pilihan obligasi berbasis konvensional dan syariah.
Dengan memahami gambaran dasar tersebut, kamu sudah memiliki bekal yang cukup untuk melanjutkan ke pembahasan berikutnya dan mengenal lebih jauh keunggulan obligasi pemerintah sebagai pilihan investasi.
Kenapa Obligasi Pemerintah Cocok Buat Kamu?
Setelah memahami pengertian obligasi, langkah selanjutnya adalah mengenali alasan mengapa instrumen ini sering dianggap lebih unggul dibanding pilihan investasi lainnya.
Keunggulan inilah yang membuat obligasi pemerintah diminati oleh berbagai kalangan investor.
Salah satu nilai plus utama obligasi pemerintah terletak pada imbal hasilnya yang stabil dan terukur.
Investor akan menerima kupon secara rutin dengan tingkat bunga yang sudah ditetapkan sejak awal, umumnya berada di kisaran 5–7 persen per tahun.
Kondisi ini berbeda dengan saham yang pergerakannya sangat dinamis atau deposito yang tingkat bunganya bisa berubah sewaktu-waktu.
Kepastian tersebut memudahkan perencanaan arus kas karena jumlah pendapatan sudah dapat diperkirakan sejak awal.
Keunggulan berikutnya adalah tingkat risikonya yang sangat rendah. Kemungkinan terjadinya gagal bayar hampir tidak ada karena seluruh kewajiban pembayaran dijamin oleh negara.
Selain itu, peringkat obligasi pemerintah Indonesia dari lembaga pemeringkat global terus menunjukkan tren positif, yang mencerminkan tingginya kepercayaan internasional terhadap kemampuan pemerintah dalam memenuhi kewajibannya.
Dari sisi modal, obligasi pemerintah juga tergolong ramah bagi investor. Dana awal yang dibutuhkan relatif kecil, bahkan sudah bisa dimulai dari nominal sekitar satu juta rupiah.
Angka ini jauh lebih terjangkau dibandingkan investasi properti atau pembelian emas dalam jumlah besar, sehingga membuka peluang bagi berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pekerja pemula, hingga mereka yang telah memasuki masa pensiun.
Selain itu, obligasi pemerintah cocok digunakan oleh investor pemula maupun yang sudah berpengalaman.
Bagi pemula, instrumen ini dapat menjadi sarana belajar investasi dengan risiko yang lebih terkendali.
Sementara bagi investor berpengalaman, obligasi berfungsi sebagai penyeimbang portofolio, terutama jika sebagian besar dana ditempatkan pada aset dengan risiko tinggi.
Dengan berbagai kelebihan tersebut, obligasi pemerintah layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi investasi jangka menengah maupun panjang.
Instrumen ini tidak hanya menawarkan rasa aman, tetapi juga membantu membangun struktur keuangan yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Jenis-Jenis Obligasi Pemerintah yang Perlu Kamu Tahu
Obligasi pemerintah tersedia dalam berbagai jenis dengan karakter yang berbeda-beda. Agar tidak salah memilih, penting untuk memahami perbedaan masing-masing instrumen secara sederhana dan jelas.
ORI atau Obligasi Ritel Indonesia merupakan obligasi dengan tingkat kupon tetap yang dapat diperjualbelikan di pasar sekunder.
Artinya, investor memiliki fleksibilitas untuk menjual obligasi ini sebelum masa jatuh tempo apabila membutuhkan dana.
Pembayaran kupon dilakukan setiap bulan, sehingga instrumen ini cocok bagi investor yang menginginkan pemasukan rutin secara berkala.
SBR atau Saving Bond Ritel memiliki ciri khas berupa kupon mengambang. Besaran imbal hasilnya mengikuti pergerakan suku bunga acuan Bank Indonesia dengan batas minimum tertentu sebagai pengaman.
Keuntungannya, ketika suku bunga meningkat, nilai kupon yang diterima juga ikut naik. Namun, SBR tidak dapat diperdagangkan di pasar sekunder, sehingga investor perlu menyimpannya hingga jatuh tempo.
SR atau Sukuk Ritel merupakan obligasi berbasis syariah yang dapat diperdagangkan. Instrumen ini menggunakan akad sesuai prinsip syariah, sehingga imbal hasil yang diterima berbentuk ujrah atau bagi hasil, bukan bunga.
Karena dapat dijual kembali di pasar sekunder, SR menawarkan fleksibilitas likuiditas sekaligus kepastian bahwa investasinya sesuai dengan ketentuan syariah.
ST atau Sukuk Tabungan bisa dikatakan sebagai versi syariah dari SBR. Imbal hasilnya bersifat mengambang mengikuti suku bunga acuan, tetapi tetap menggunakan prinsip syariah.
Instrumen ini tidak dapat diperdagangkan, sehingga lebih cocok bagi investor yang berencana menyimpan investasi dalam jangka waktu tertentu dan siap mengikuti fluktuasi imbal hasil sesuai kondisi ekonomi.
Setiap jenis obligasi pemerintah memiliki waktu penerbitan dan ketentuan yang berbeda. Pemerintah biasanya menawarkan obligasi ritel beberapa kali dalam setahun sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Dari sisi tenor, jangka waktu investasi juga bervariasi, mulai dari dua tahun hingga sepuluh tahun, tergantung jenis obligasi yang dipilih.
Dengan memahami karakter masing-masing instrumen, investor dapat menentukan pilihan obligasi yang paling sesuai dengan tujuan dan gaya berinvestasi.
Baik yang mengutamakan likuiditas, kestabilan imbal hasil, maupun kepatuhan pada prinsip syariah, obligasi pemerintah menyediakan beragam opsi yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan finansial.
Cara Beli Obligasi Pemerintah Langkah demi Langkah
Inilah bagian yang paling banyak dicari. Tidak perlu khawatir, cara beli obligasi pemerintah saat ini sudah sangat praktis dan bisa dilakukan dengan mudah.
Simak langkah-langkah sederhana berikut agar prosesnya berjalan lancar.
Langkah 1: Mendaftar di Mitra Distribusi Resmi
Langkah awal yang perlu dilakukan adalah membuat akun di mitra distribusi yang telah ditunjuk pemerintah.
Kamu bisa memilih berbagai opsi, mulai dari bank nasional seperti BCA, Mandiri, BNI, dan BRI, hingga perusahaan sekuritas maupun aplikasi investasi digital. Gunakan platform yang paling nyaman dan mudah kamu pahami agar proses berjalan lancar.
Langkah 2: Melengkapi Data dan Verifikasi SID
Setelah pendaftaran, kamu diminta mengisi data diri seperti KTP, NPWP, serta informasi pendukung lainnya.
Pada tahap ini, kamu juga harus memiliki SID (Single Investor Identification) yang berfungsi sebagai identitas resmi investor di pasar modal Indonesia.
Jika belum memilikinya, pembuatan SID biasanya dapat dilakukan bersamaan dengan proses pendaftaran akun.
Langkah 3: Menentukan Obligasi yang Tersedia
Perhatikan jadwal penerbitan Surat Berharga Negara melalui situs resmi Kementerian Keuangan atau aplikasi investasi yang kamu gunakan.
Setiap seri obligasi memiliki masa penawaran terbatas, umumnya berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu.
Luangkan waktu untuk membaca prospektus atau ringkasan informasi agar kamu memahami detail seperti besaran kupon, jangka waktu, serta ketentuan lainnya.
Langkah 4: Melakukan Pemesanan dan Pembayaran
Jika sudah menentukan pilihan, tentukan nominal investasi sesuai kemampuan lalu lakukan pemesanan melalui platform.
Setelah itu, lakukan transfer dana ke rekening yang ditetapkan sesuai jumlah yang dipesan. Pastikan pembayaran dilakukan sebelum batas akhir masa pemesanan agar transaksi tidak dibatalkan.
Langkah 5: Menerima Bukti Kepemilikan Digital
Setelah dana berhasil diterima dan diverifikasi, kamu akan memperoleh bukti kepemilikan obligasi dalam bentuk digital.
Simpan dokumen ini dengan baik sebagai arsip investasi. Pembayaran kupon akan mulai dikirimkan ke rekening sesuai jadwal yang tercantum dalam ketentuan obligasi.
Tips Tambahan yang Perlu Diperhatikan:
- Rutin mengecek informasi penerbitan terbaru di laman resmi Kementerian Keuangan
- Pilih aplikasi atau platform dengan tampilan sederhana, terutama bagi pemula
- Siapkan dana sebelum masa penawaran dibuka
- Pahami seluruh syarat dan ketentuan sebelum melakukan pemesanan
Setelah semua tahapan tersebut selesai, kamu hanya perlu menunggu dan menikmati pembayaran kupon yang masuk secara berkala ke rekening.
Meski terlihat panjang, seluruh proses ini sebenarnya bisa diselesaikan dalam waktu singkat selama dokumen sudah siap.
Simulasi Keuntungan & Risiko
Bagi kamu yang senang dengan perhitungan angka, mari kita bahas potensi keuntungan dari investasi obligasi pemerintah secara lebih nyata. Dengan contoh sederhana, kamu bisa melihat seberapa menarik imbal hasil yang ditawarkan instrumen ini.
Sebagai ilustrasi, anggap kamu membeli ORI dengan tingkat kupon 6,5 persen per tahun dan nilai investasi sebesar Rp10 juta.
Dari investasi tersebut, kupon yang diterima setiap bulan sekitar Rp54.167, hasil dari perhitungan kupon tahunan yang dibagi rata selama 12 bulan. Dalam satu tahun, total imbal hasil yang kamu peroleh mencapai Rp650.000.
Jika tenor obligasi tersebut berjalan selama tiga tahun, maka total kupon yang terkumpul menjadi Rp1.950.000, dan di akhir masa jatuh tempo kamu juga akan menerima kembali dana pokok sebesar Rp10 juta.
Jika dibandingkan dengan deposito, selisihnya cukup terasa. Deposito dengan bunga rata-rata 3–4 persen per tahun untuk nominal yang sama selama tiga tahun hanya menghasilkan bunga sekitar Rp900.000 hingga Rp1.200.000.
Dari perbandingan ini, terlihat bahwa obligasi pemerintah mampu memberikan imbal hasil yang lebih optimal dengan tingkat risiko yang tetap terkendali.
Bagaimana jika dibandingkan dengan saham? Saham memang berpotensi memberikan keuntungan yang jauh lebih besar, tetapi risikonya juga tidak bisa diabaikan.
Nilai saham bisa melonjak tajam dalam waktu singkat, namun sebaliknya juga dapat turun drastis.
Obligasi pemerintah berada di posisi yang berbeda karena menawarkan kepastian imbal hasil tanpa fluktuasi harga yang ekstrem. Hal serupa juga berlaku jika dibandingkan dengan aset kripto yang pergerakannya sangat volatil.
Meski demikian, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan. Sebagian besar obligasi tidak dapat dicairkan sebelum jatuh tempo, kecuali jenis tertentu yang bisa diperjualbelikan di pasar sekunder.
Oleh karena itu, dana yang dialokasikan sebaiknya benar-benar dana yang tidak akan digunakan dalam waktu dekat.
Dari sisi risiko, obligasi pemerintah umumnya menghadapi risiko likuiditas dan risiko perubahan suku bunga. Ketika suku bunga meningkat, harga obligasi di pasar sekunder cenderung menurun.
Namun, bagi investor yang menyimpan obligasi hingga jatuh tempo, perubahan ini tidak berdampak besar karena pembayaran kupon dan pengembalian pokok tetap sesuai perjanjian awal.
Soal pajak, imbal hasil obligasi pemerintah dikenakan pajak final sebesar 15 persen yang langsung dipotong.
Tarif ini masih lebih rendah dibandingkan pajak bunga deposito yang bisa mencapai 20 persen, terutama untuk nominal simpanan yang besar.
Dengan mempertimbangkan seluruh aspek tersebut, obligasi pemerintah layak dipertimbangkan bagi investor yang mengutamakan keamanan, pendapatan rutin, dan kepastian hasil.
Imbal hasilnya lebih menarik dibandingkan deposito, sementara tingkat risikonya tetap relatif rendah.
Tips Memilih Obligasi yang Sesuai Tujuan Kamu
Setiap investor memiliki preferensi dan tujuan yang berbeda, sehingga pemilihan obligasi sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Dengan memahami karakter tiap instrumen, kamu bisa menentukan pilihan yang paling tepat.
Jika Mengutamakan Stabilitas dan Kepastian
ORI dan ST dapat menjadi pilihan yang ideal karena menawarkan imbal hasil yang bersifat tetap selama masa investasi.
Besaran kupon tidak berubah, sehingga kamu dapat memperkirakan pemasukan bulanan dengan lebih akurat.
Instrumen ini cocok bagi investor pemula maupun mereka yang menginginkan pendapatan pasif yang konsisten.
Jika Membutuhkan Fleksibilitas Pencairan Dana
ORI dan SR memberikan keleluasaan karena dapat diperjualbelikan di pasar sekunder. Ketika muncul kebutuhan dana mendesak, obligasi ini bisa dijual sebelum jatuh tempo.
Meski nilai jualnya dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar, setidaknya investor memiliki opsi untuk keluar dari investasi.
Jika Menginginkan Investasi Berbasis Syariah
SR dan ST menggunakan prinsip syariah dalam pengelolaannya, sehingga sesuai bagi investor yang ingin berinvestasi secara halal.
Imbal hasil diperoleh dalam bentuk ujrah atau bagi hasil, bukan bunga, sehingga tetap sejalan dengan ketentuan syariah.
Jika Mengincar Potensi Imbal Hasil yang Lebih Dinamis
SBR dan ST dengan kupon mengambang dapat menjadi alternatif menarik. Besaran kupon mengikuti perubahan suku bunga acuan, sehingga ketika suku bunga meningkat, imbal hasil yang diterima juga bertambah.
Namun, perlu diingat bahwa penurunan suku bunga juga dapat berdampak pada turunnya nilai kupon, meski tetap memiliki batas minimum tertentu.
Menyesuaikan dengan Jangka Waktu Investasi
Obligasi pemerintah tersedia dalam berbagai pilihan tenor, mulai dari dua hingga sepuluh tahun. Pemilihan jangka waktu sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan.
Untuk kebutuhan jangka panjang seperti dana pendidikan, tenor panjang bisa dipertimbangkan, sementara rencana jangka menengah lebih cocok dengan tenor yang lebih pendek.
Memperhatikan Kebutuhan Likuiditas
Jika ada kemungkinan membutuhkan dana sebelum jatuh tempo, obligasi yang dapat diperdagangkan seperti ORI dan SR lebih fleksibel.
Sebaliknya, jika dana dipastikan tidak akan digunakan dalam waktu dekat, SBR atau ST dapat menjadi pilihan yang menarik dengan potensi imbal hasil yang kompetitif.
Dengan menyesuaikan pilihan obligasi terhadap profil risiko dan tujuan keuangan, kamu bisa mendapatkan investasi yang memberikan rasa aman sekaligus hasil yang optimal.
Tidak ada instrumen yang cocok untuk semua orang, namun keputusan yang tepat akan membantu mencapai tujuan finansial dengan lebih nyaman.
Sebagai penutup, memahami langkah dan strategi investasi membantu kamu mulai dengan percaya diri serta sukses meraih keuntungan melalui cara beli obligasi pemerintah.